Prosesi Upacara Ruwatan Rambut Gimbal Dieng Ruwatan rambut gembel anak-anak Pegunungan Dieng adalah peninggalan leluhur yang hingga saat ini masih menjadi tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun. Masyarakat Dataran Tinggi Dieng mempercayai bahwa keberadaan rambut gembel adalah titipan Kyai Kolodete, yaitu nenek moyang masyarakat Dieng. Berdasarkan mitos, rambut gembel anak-anak Dieng dianggap sebagai bala (petaka) sehingga anak yang telah dipangkas rambut gembelnya dipercayai akan tumbuh menjadi anak baik yang panjang umur dan banyak rezeki. Prosesi Upacara Ruwatan Rambut Gimbal Dieng Ruwatan rambut gembel ini sudah dimasukkan dalam acara tahunan, yakni Dieng Culture Festival yang digelar pada bulan Juli. Acara ini menampilkan ruwatan rambut gimbal, festival seni budaya, pameran kerajinan khas Dataran Tinggi Dieng. Anda akan melihat anak-anak gembel dikirab dengan kereta kuda diiringi para abdi berpakaian adat Jawa dan diikuti tarian selama mengelilingi kampung. Tari...
Judulnya sangat biologis sekali. Tapi isi artikelnya saya jamin rasanya antah berantah tak jelas. Tau daun kelor ? Pernah lihat ? Atau malah belum tahu ? Ini saya bocorin wujudnya. Wujud daun kelor. Gak mau bahas lebar-lebar tentang daun kelor. Ini bukan tentang daun kelor. Saya mau bahas tentang makna tersirat dari judul diatas. Saya yakin, pembaca pasti sudah pernah dengar kalimat peribahasa (Dunia) Tak Selebar Daun Kelor. Baithewei pembaca tau akan maksudya ? Enggak ? Yaudah saya bocorin lagi nih. Arti tersirat yang pada umumnya orang-orang tahu adalah dunia itu tak sesempit yang kita pikir. Dan makna tersirat lainnya adalah kita jangan patah arang dalam menghadapi sebuah kegagalan, banyak cara untuk berhasil (lihat daunnya banyak kan ?). Agak gak nyambung ya ? bodo amat sih, itu kan cuma dari sisi perspektif saya (jangan dianggap serius). Dunia tak sesempit yang kita kira kita pikir. Menurut perspektif saya (lagi), ya.. memang begitu adanya. Jadi gini, saya pun...
Setelah malam kecemburuanku itu. Hari-hari berikutnya aku jalani dengan pikiran dan hati yang lebih jernih nan tenang. Mencoba untuk tidak terlalu dibawa rasa. Aku telaah lagi kalimat itu. Sepertinya aku telah salah menelaah, terlalu dibawa ego cemburu. Kamu sedang mencari jodoh, kamu tahun ini akan serius mencari jodoh. Bukan tahun ini menikah. Semoga apa yang aku artikan dari kalimatmu itu benar. Sungguh aku sangat sangat merindukanmu. Maafkan aku yang telah terlalu menjadi pecandu akan pribadimu, Entah kenapa hari-hari yang kulalui kemarin, pikiran dan hati inipun seakan malah yang ada hanya sesosok pribadimu saja. Bingung tak terarah, kemana aku akan berbagi cerita bahwa aku rindu. Aku hanya bisa curhat kepada sang pembolak balik hati dan lewat ketikan ini. Bukan aku tak mau berbagi cerita dengan kedua orang tuaku, saudaraku, sahabatku, temanku. Karena aku sudah terlanjur terlalu nyaman untuk curhat kepada Rabbku dan lewat ketikan ini (tak ada tany...
Comments
Post a Comment